Antara Guru, Orang Tua, dan Pemerintah

Antara Guru, Orang Tua, dan Pemerintah

186
0
SHARE

SEMPURNA  adalah sebuah kata yang mengindikasikan penyatuan semua unsur yang berbeda dan saling melengkapi. Kesempurnaan itu sendiri merupakan hasil dari proses dimana setiap mahluk yang namanya manusia gencar untuk mengejarnya. Seorang wanita akan berdandan sedemikian menarik hingga ia terlihat cantik, karena dia tahu bahwa pintu menuju hati seorang pria itu adalah matanya sehingga diapun tampil sempurna. Begitu halnya dengan pria, dia akan menghias kata-katanya selembut mungkin karena dia tahu pintu menuju hati wanita adalah telinganya, sehingga diapun berusaha merangkai kata demi kata menjadi bait-bait puisi yang romantis supaya disebut sempurna. Nah pada kesempatan ini, penulis mencoba membahas kesempurnaan dunia pendidikan kita yang kini mulai hilang kelengkapannya di mata dunia umumnya dan Indonesia khususnya.

Pembaca yang budiman, sesampainya tulisan ini di tangan pembaca merupakan hasil dari kerja pendidikan yang telah kita lewati dari tingkat SD, SMP, SMA dan seterusnya. Artinya bahwa dari pendidikan kita dapat mengenal huruf yang berubah menjadi kata, kita dapat mengerti makna kata menjadi kalimat dan dari kalimat itulah kita dapat memahami secara utuh sebuah paragraf.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa fungsi dan tujuan sekolah (pendidikan) bukan lagi seperti pada awal kemerdekaan yakni sebagai pemberantasan buta huruf, melainkan sekolah itu sendiri sudah mengalami perluasan makna dan fungsi yang strategis terhadap pembentukan moral anak bangsa dibeberapa dekade terahir ini.

Hal tersebut sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional: bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kratif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pembaca yang terdidik! Sebagaimana fakta di atas, ternyata pada saat yang bersamaan, banyak pakar yang mengidolakan sistem pendidikan luar negeri dengan andil agar menerapkan sistem tersebut (Sistem Pendidikan Luar Negeri) di bangsa tercinta ini. Hal ini bukan berarti tidak bisa, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya sekaligus mengajak pembaca sekalian untuk kita menelaah kembali perumusan dasar dari sistem pendidikan kita di Indonesia sebagaimana tersinyalir di dalam Undang-undang tersebut di atas tadi.

Adapun, bagi penulis, mohon maaf ya, bahwa idealnya cerminan terhadap dunia Pendidikan luar negeri tidak seutuhnya harus menjadi konsumsi lahap bagi Sistem Pendidikan Indonesia. Kenapa ? Ya karena semua terpulang kepada peletakan dasar tujuan Pendidikan Negara masing-masing.

Saya dan anda tahu bahkan kita semua pasti tahu bahwa di sini kita punya semboyang Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu). Pertanyaannya apakah keseluruhan sistem pendidikan kita sudah mampu mengejewentahkan (menerapkan) Bhineka Tunggal Ika dalam segala aspek, baik itu aspek sosial, budaya, politik maupun aspek agama? ataukah belum? Kalaupun hal ini masih tumbang tumbuh, lantas untuk apa kita bersorak-sorak mengejar ketertinggalan tujuan Pendidikan dari Negara lain?

Segenap hormat untuk para pembaca, ketertinggalan kereta Pendidikan kita bukan karena kita tidak bergerak maju, melainkan lebih pada lemahnya Take In Focus (menetapkan secara betul) pada tujuan-tujuan pendidikan kita. Akibat dari gagal fokus tersebut, para habibi-habibi muda (generasi) pun turut gagal merepresentasikan tekhnologi. Bukan hanya itu, para politisi (sebahagian) juga sulit menemukan eksistensi berpolitik yang bermartabat. Belum lagi dengan suburnya aliran hitam dan maraknya bandar narkoba. Secara perlahan Out Put pendidikan kita kerap melahirkan Habibi – Habibi baru yang selalu lupa akan eksistensi.

Dari realitas ini, sebuah pertanyaan sederhana dari penulis pun kemudian muncul, “bagaimana kita melihat sisi terbaik dari sistem pendidikan yang sudah kita tekuni selama kurang lebih 72 tahun ini?” Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pembaca sekalian, berikut ini, Penulis merasa penting untuk memberikan beberapa solusi berdasarkan analisis penulis.

Pertama: Mengarah pada paparan di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa keseluruhan sistem pendidikan merupakan keutuhan yang di bangun atas dasar tujuan-tujuan kecil demi mewujudkan cita-cita besar pendidikan nasional. Walaupun kita menyadari dalam perjalanan tersebut seringkali jatuh bangun. Oleh karena itu, melalui pengantarnya Dr. H. Syaiful Mustofa, M.Pd. dalam bukunya Hamdy M.Zen, M.Pd I “Seolah Beragama” (tengah dirilis), mengungkap secara jelas bahwa: Untuk melahirkan generasi unggul, pendidikan harus berorientasi pada proses bukan pada hasil, proses harus menjadi inti dalam sebuah pendidikan.

Secara tegas Suleman Ilyas menyampaikan bahwa: “Anak merupakan cikal bakal pemegang tampuk keberhasilan dunia dimasa yang akan datang, maka lahirlah tuntutan pendidikan. Peran pendidikan yang ditugaskan kepada guru untuk mendidik generasi bangsa tidaklah cukup untuk mencerdaskan  anak-anak bangsa, bahkan pemikiran orang tua wali murid bahwa ketika anaknya bersekolah itu sudah menjadi tanggung jawab sepenuhnya guru. Pemikiran seperti ini belum tentu final dalam pembenahan generasi kita”.

Kedua: Menjadi orang tua sudah seharusnya memiliki ilmu dasar untuk membina anak-anaknya di luar jam sekolah. Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan orang tua yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi? Sederhananya adalah para orang tua bisa memanfaatkan Majelis Ta’lim untuk mengkaji bagaimana cara mendidik anak sesuai kriteria agama yang tetap relefan dengan zaman. Misalnya adalah pembenahan keluarga sakinah dimana keluarga atau orang tua sebagai wadah pendidikan awal pembentukan moral hendaknya menjadi suri tauladan yang baik. Artinya bahwa orang tua harus menjadi contoh bagi nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, rasa saling memiliki, kerja keras tanpa memaksakan kehendaknya karena sesungguhnya “tidak ada paksaan dalam beragama” (Al-Qur’an). Anak-anak membutuhkan pembelajaran secara emosional yang mengikat hatinya.

Selain itu, orang tua juga bisa memanfaatkan media online atau televisi untuk mengakses berita-berita yang mengarah pada pembangunan karakter anak dan pembentukan keluarga sakinah. Maaf, bukan hanya menikamati sinetron-sinetron yang tidak mendidik. Dengan demikian, keluarga dalam hal ini orang tua memiliki peran yang sangat strategis dan waktu yang paling lama dalam mengawasi, mengajari, menasehati serta membekali putra-putrinya dengan segala nilai luhur dan budi pekerti sehingga generasi setelahnya menjadi pengabdi negeri yang tulus tanpa pamrih.

Ketiga: Selain dari pada itu, lingkungan masyarakat atau pemerintah sebagai pengambil kebijakan merupakan cuaca yang dapat pula menentukan kesuburan dalam pertumbuhan generasi emas bangsa. Bertolak dari sinilah kita akan menemukan sisi kesempurnaan sebagaimana maksud dari awal tulisan ini, dengan harapan kita menjadi negara kita sendiri tanpa terobsesi dengan negera lain. Lebih penting adalah bagaimana kita mendalami keragaman budaya, sosial, adat istiadat serta agama sebagai nilai-nilai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebagai penutup, penulis ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana sebagai renungan kita bersama: Sebagai orang tua, dengan cara apakah kita mengabdi kepada Republik ini selain daripada memelihara otak dan hati anak-anak kita??? Jawabannya tergantung kepada siapa, yang mau berpikir, lalu menilai apa. Sekian.

Penulis :
Asnawi Mashud
Ketua Umum PW Pemuda Muslimin Indonesia Maluku Utara
Koalisi Masyarakat Transparansi Maluku Utara (KMT Malut)